Mimpi sang Kaisar

Pada suatu waktu, seorang kaisar Rusia bermimpi melihat seekor rubah tergantung di atap istana, dan ketika terbangun ia begitu gelisah sehingga ia tidak bisa berhenti memikirkan mimpinya. Para penasehat tidak bisa mengartikan mimpinya, tetapi kaisar bersikeras.

“Mimpi ini penting. Aku harus menemukan seseorang yang bisa mengartikannya bagiku,” katanya. Jadi ia mengeluarkan pengumuman, menjanjikan hadiah besar bagi siapapun yang bisa mengartikan mimpinya.

Dari segala penjuru, orang berdatangan untuk mengartikan mimpi ganjil sang kaisar, dan di antara banyak orang yang telah memutuskan untuk pergi ke istana adalah seorang petani miskin bernama Ilya. Ilya sedang membayangkan berbagai makna mimpi sambil berjalan menuju istana, ketika di belokan, ia bertemu dengan seekor ular yang berbaring di tengah jalan. Tepat ketika Ilya akan melewatinya, ular berkata, “Selamat siang, nak. Kemana kamu akan pergi?”

Ilya tidak terkejut mendengar ular, karena ia menyadari ada hal-hal yang ajaib dan luarbiasa di dunia ini.”Aku akan pergi ke istana,” katanya. “Aku berharap dapat mengartikan mimpi kaisar, meskipun aku tidak mengetahui bagaimana caranya.”

“Aku tahu caranya,” kata ular, “dan jika kamu berjanji untuk membagi hadiahnya padaku, aku akan memberitahu arti dari mimpi itu.”

Ilya sangat gembira dan berjanji membagi hadiah, jadi ular menjelaskan. Rubah yang tergantung di atap istana berarti banyak orang di negeri itu yang licik dan jahat, dan kaisar harus berhati-hati.

Ilya berterima kasih kepada ular dan bergegas melanjutkan perjalanannya. Ketika ia muncul di hadapan kaisar, ia berkata, “Banyak orang di negeri ini yang licik dan jahat, dan anda harus berhati-hati. Inilah arti dari mimpi anda.”

Kaisar segera tahu bahwa kata-kata Ilya memang benar, dan ia menghadiahinya dengan banyak hadiah. Ilya bergegas pulang. Tetapi ia tidak ingin membagi hadiahnya, jadi ia mengambil jalan lain untuk menghindari ular.

Waktu berlalu, dan kemudian kaisar mendapat mimpi lain yang mengganggunya. Kali ini ia melihat sebuah pedang bercucuran darah menggantung dari atap istana. Ketika terbangun ia tidak bisa berhenti memikirkannya. “Panggil petani itu ke istana, karena ia akan tahu apa artinya,” perintahnya kepada para pelayan.

Para pelayan dikirim untuk menjemput Ilya. Petani miskin itu ketakutan. “Aku tidak tahu apa arti mimpi itu,” katanya, jadi ia memutuskan untuk mencari ular. “Mungkin ia sudah lupa akan hadiahnya.

Sekali lagi ia berjalan di jalan dimana ia pernah bertemu ular, dan betul saja, ular itu ada di sana, berjemur di tengah jalan.

“Kaisar bermimpi lagi,” kata Ilya, “dan apakah kamu bersedia membantuku mengartikannya. Tentu saja aku akan membagi hadiahnya.”

“Kamu janji?” tanya ular. Ilya bersumpah bahwa ia akan membagi hadiahnya, jadi ular menjelaskan pedang yang bercucuran darah berarti perang sedang menjelang. Musuh dari luar akan segera menyerang, dan kaisar harus bersiap untuk mempertahankan negerinya.

Ilya berterima kasih kepada ular dan bergegas ke istana, dan di sana ia menceritakan arti mimpi itu kepada kaisar. Karena sangat terkesan, kaisar memberinya sekantung emas dan banyak harta lainnya, dan ketika Ilya meninggalkan istana, ular muncul di luar tembok istana.

“Berikan bagianku,” kata ular, tetapi Ilya tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seekor ular dengan emas. Lagi pula ia tidak ingin berbagi.

“Kamu tidak punya bagian!” teriak Ilya, dan ia menghunus pisaunya, bersiap untuk membunuh ular, tetapi ular berbelok dan menyelip ke dalam lubang di tanah. Tetapi tepat sebelum ular menghilang, Ilya menyerang dan memotong ekor ular.

“Tidak akan ada masalah lagi dari ular yang terluka!” kata Ilya dengan suara keras, dan ia bergegas pulang, membawa harta barunya.

Ramalan ular memang benar, perang datang, dan pertumpahan darah terjadi selama bertahun-tahun. Tetapi pada akhirnya, tentara kaisar menang, dan damai kembali ke negeri itu.

Dan kemudian, kaisar bermimpi lagi. la melihat seekor domba putih yang gemuk tergantung dari atap istana. Sekali lagi ia memanggil Ilya.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Ilya kepada dirinya sendiri sambil berjalan ke istana. “Bagaimana aku bisa meminta bantuan ular setelah aku melukainya?”

Tetapi tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang ia kenal dari tepi jalan. “Berjanjilah untuk membagi separuh dari hadiahmu, maka aku akan memberitahu arti dari mimpi kaisar,” desis sang ular.

“Aku janji!” kata Ilya. Kali ini ia tahu bahwa ia harus adil.

“Domba yang menggantung dari atap berarti damai telah tiba dan orang-orang bahagia. Kemurahan hati dan kebaikan akan berjaya.”

Ilya bergegas ke istana dan menawarkan kabar gembira itu, dan kaisar sangat senang, ia menghadiahi Ilya berkantung-kantung emas dan semua harta yang bisa ia bisa bawa.

Ketika ia berjalan pulang, ia mencari ular, dan ketika menemukannya, ia berlutut. “Bagaimana kamu bisa memaafkan aku untuk perlakuanku di masa lalu?” tanyanya. “Kali ini aku akan memberimu semua hartaku.”

“Tidak, tidak,” kata ular. “Aku mengerti. Ketika kaisar mendapat impian pertamanya, negeri ini penuh kelicikan, dan seperti orang lain, kamu juga licik. Kemudian negeri kita dilanda perang, kemarahan dan kebencian, dan kamu juga menjadi kejam. Sekarang ada perdamaian, dan seperti orang lain, kamu akan murah hati. Lanjutkan perjalananmu. Aku tidak membutuhkan hartamu, hanya kebaikanmu.”

Keutamaan Sholat Berjamaah

Suatu ketika, Umar bin Khattab hendak melakukan shalat Subuh. Ia memperhatikan jama’ah yang akan shalat Subuh. Umar merasa heran ketika ia tidak melihat seorang laki-laki bernama Sulaiman bin Abi Hatsmah. Sulaiman adalah laki-laki yang tinggal di sebuah tempat, tepat antara pasar dan Masjid Nabawi.

Pagi harinya, Umar pergi ke pasar. Di pasar itu ia bertemu dengan ibu Sulaiman yang bernama Syifa’. Umar lalu bertanya kepadanya, “Aku tidak melihat Sulaiman shalat Subuh berjamaah. Kemana dia?”

Sang ibu pun menjawab, “Sulaiman shalat sepanjang malam. Ia kemudian tertidur.”

Umar kemudian berkata, “Aku lebih senang shalat Subuh berjamaah daripada shalat sepanjang malam.” Maksud perkataan Umar adalah shalat Subuh berjamaah itu lebih utama daripada shalat malam.

Umar sangat menganjurkan umat Islam agar shalat berjamaah karena beliau mengetahui keutamaannya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Shalat berjamaah itu lebih utama dua puluh tujuh kali lipat pahalanya daripada shalat sendirian. Sementara itu, para malaikat penjaga siang dan malam berkumpul pada saat shalat Subuh (HR Bukhari).”

Keutamaan seorang Wanita

Al-Khansa adalah seorang wanita mahir dalam bersyair. la adalah seorang istri yang telah ditinggal mati suaminya. la memiliki empat orang anak laki-laki. Semuanya dididik untuk memegang teguh ajaran Islam.

Pada zaman Umar bin Khattab ra menjadi khalifah, kaum Muslimin mendengar ajakan perang Persia dalam perang Qadisiah. Di rumah Al-Khansa, anak-anaknya bermusyawarah. Saat itu Al-Khansa sudah tua dan sering sakit-sakitan. Saat mendengar ajakan perang itu, keempat anak Al-khansa saling menunjuk siapa yang akan berangkat perang dan siapa yang akan tinggal di rumah untuk menjaga ibunya.

Al-Khansa kemudian berkata pada anakanaknya, “Anakku, sesungguhnya kalian telah memeluk Islam. Jika ada panggilan perang, singsingkanlah lengan baju dan berangkatlah!”

Akhirnya, keempat anak Al-Khanza itu berangkat ke medan perang untuk berjihad melawan musuh. Dalam peperangan itu banyak kaum Muslimin yang gugur, termasuk keempat putra Al-Khansa.

Ketika Al-Khansa yang tua renta itu mendengar kabar kematian keempat anaknya yang mati syahid, ia tidak merasa sedih. Bahkan ia mengucapkan, “Alhamdulillah karena telah memuliakanku dengan syahidnya putra-putraku. Semoga Allah segera memanggilku dan berkenan mempertemukan aku dengan putra-putraku dalam naungan Allah di surga.”

AI-Khansa akhirnya wafat pada permulaan masa khalifah Usman bin Affan.

Amal buruk

Semua amal perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawabannya. Semakin banyak amalan baik yang dilakukan manusia, semakin banyak pula balasan yang akan diperoleh. Demikian juga sebaliknya. Semakin banyak amalan buruk yang dilakukan manusia, semakin banyak pula balasan buruk yang akan diperolehnya.

 

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Marzuq, “Tatkala orang kafir atau orang jahat keluar dari kuburnya, dia bertemu dengan sosok paling buruk dan bau yang paling busuk. Orang kafir bertanya,’Siapa kamu?'”

 

Sosok itu menjawab, “Apakah kamu tidak mengenal saya?”

 

Si kafir menjawab, “Demi Allah, saya tidak mengenalmu karena Allah memburukkan wajahmu dan membusukkan baumu.”

 

Sosok itu menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk itu. Demikianlah, dahulu ketika di dunia aku merupakan amal yang buruk dan busuk. Selama kamu menunggangiku ketika di dunia, selama itu pula aku menempel denganmu.”

 

Itulah maksud firman Allah, “Sedang mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnyaā€¯ (QS. Al-An’am:31)